merahnya pagi kuseduh dan kuaduk dengan pemanis, kukecup bibir gelas sampai ia habis
hangatkan rasaku yang membeku dan gerakkan langkah yang kaku
terasa hangat pula dada ini seakan tiada terbebani
putihnya siang nan cerah tertumpah di sebentuk wadah
berteman dengan bening, berteman dengan dingin
sejuknya terasa menumpas dahaga yang membakar dada
pekatnya malam kuramu bersama butiran ingatan yang kian keruh
menjadikannya manis, meski kadang terlampau manis
bila ia terasa pahit, aku dapat berhenti mengenangnya
semua rasa menyatu dalam gelap dan bungkamnya kata yang terucap
seluruh sadarku luruh hingga tubuh seperti bangkai
dalam jiwa dan hati yang hidup dan mimpi yang membuai
semua rasa menyatu dalam gelap dan bungkamnya kata yang terucap
hingga duapertiganya berlalu, sisakan ingatanku padaMu
padaMu yang hadir pagi, siang dan malamku
dalam merah, putih dan hitamku
bening dan keruhnya jiwaku
dalam sadarku, dalam mimpiku, dalam setiap ingatanku
dalam derap langkahku, dalam harap ambisiku
seluruh hidupku semoga selalu tertuju padaMu
hangatkan rasaku yang membeku dan gerakkan langkah yang kaku
terasa hangat pula dada ini seakan tiada terbebani
putihnya siang nan cerah tertumpah di sebentuk wadah
berteman dengan bening, berteman dengan dingin
sejuknya terasa menumpas dahaga yang membakar dada
pekatnya malam kuramu bersama butiran ingatan yang kian keruh
menjadikannya manis, meski kadang terlampau manis
bila ia terasa pahit, aku dapat berhenti mengenangnya
semua rasa menyatu dalam gelap dan bungkamnya kata yang terucap
seluruh sadarku luruh hingga tubuh seperti bangkai
dalam jiwa dan hati yang hidup dan mimpi yang membuai
semua rasa menyatu dalam gelap dan bungkamnya kata yang terucap
hingga duapertiganya berlalu, sisakan ingatanku padaMu
padaMu yang hadir pagi, siang dan malamku
dalam merah, putih dan hitamku
bening dan keruhnya jiwaku
dalam sadarku, dalam mimpiku, dalam setiap ingatanku
dalam derap langkahku, dalam harap ambisiku
seluruh hidupku semoga selalu tertuju padaMu